Pages

Jumat, 11 Oktober 2013

Kembali untuk Pergi #1

0 komentar

Malam itu, aku sedang mengerjakan tugas matematika yang belum selesai. Tiba-tiba, aku rindu sekali dengan semua candaanmu. Ya, dia yang telah pergi. Salah lah aku menulis tentangmu kembali, karena sebelumnya aku sudah berjanji untuk tidak menulis seperti ini lagi kepadamu. Ingat kah?

Tulisan ini tidak aku niatkan untukmu. Kali ini aku hanya akan berbagi cerita kepada mereka-yang membaca.

Setelah aku selesai mengerjakan tugas, aku memeriksa handphone yang sedari tadi tidak berbunyi. Oh, mati ternyata handphonenya, celetukku kesal. Kemudian aku pun menyalakan kembali handphoneku.

Tidak ada satu chat atau pesan pun yang aku terima. Hh..sudahlah aku terlalu berharap. Harapan itu selalu ada untukmu yang telah pergi. Namun aku selalu sadar diri.

Belum satu menit aku meninggalkan handphoneku, tiba-tiba beberapa chat telah aku terima. Aku terkejut ketika melihat bahwa chat itu dari kamu. Tak tahu harus senang atau kah sedih yang aku rasakan.

Hay, apa kabar?

Ya Tuhan, kamu datang..
Aku pun membalas chatmu satu persatu. Aku sangat rindu saat masa-masa ini, saat kita bercanda satu sama lain tanpa memikirkan masalah yang sedang dihadapi.

Maura, bisakah kita bertemu besok sore? Aku rindu.

Bisa kau bayangkan? Bagaimana rasanya orang yang telah pergi tiba-tiba datang dan mengajakmu bertemu?

Maura, aku ingin bicara serius denganmu. Jangan dulu potong semua obrolanku.

Seperti anak yang menuruti ayahnya, aku tidak membalas dan hanya menunggu dia berbicara.

Sejujurnya, aku ingin kembali bersamamu, Maura. Aku merasa sepi, seperti jarum jam besar tanpa jarum jam kecil, berdetik sendirian.

Bagaimana Maura?

Tuhan, rencana apalagi yang Kau buat untukku?

Rabu, 09 Oktober 2013

"Hai, Anak Kelas Sebelah!"

0 komentar

"Maura! Ini aku kembaliin bukunya"

Kemudian, aku menghampiri dia di depan pintu kelas.

"Makasih yaa!"

Dia mengembalikan buku yg dipinjamnya dariku sambil tersenyum. Padahal bukan dia yang meminjamnya. Ah entahlah, aku sudah terlanjur terpesona olehnya, ucapku dalam hati.

Ah ya, aku belum menceritakan semuanya. Entah dari kapan, aku mengagumi sosok dirinya. Awalnya aku hanya mengagumi suaranya ketika dia bernyanyi. Tapi entahlah sekarang apa nama yang cocok jika bukan sekedar mengagumi.

Karena, tiap aku bertemu dengannya, terkadang aku malu ketika ingin memberikan senyuman terbaikku. Aku hanya menunduk atau menunggu dia untuk melihatku dan memberikan senyuman kepadaku.

Tak banyak orang yang tahu tentang hal ini. Mungkin hanya Lala-teman sebangkuku-yang tahu. Suatu hari ketika aku bosan dengan buku sejarah yang aku baca,

"Ah aku ingin keluar sebentar"
"Mau ngapain hey?" tanya Lala.
"Hanya ingin menghirup udara segar di luar."

Saat aku keluar, di ujung lorong ada segerombolan laki-laki dan aku mengenalnya. Salah satu dari mereka menyapaku. Dan... Oh Tuhan, dia ada diantara mereka!

Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Dia ikut tersenyum saat salah seorang diantara mereka menyapaku.
It's a little thing. Dia tersenyum saja sudah bisa membuat kebosanan ku hilang seketika. Seandainya aku bisa mengenalmu lebih dari ini. Tak bermaksud apa-apa, aku hanya terlanjur penasaran akan semua tentangmu.

Sering-sering lewat depan kelasku ya, Wahai Anak Kelas Sebelah! ucap Maura.

Senin, 07 Oktober 2013

Cinta.

0 komentar

Aku hanya tak ingin mereka pergi. Tetaplah disini selama raga menjaga dunia. Terimakasih Tuhan, kau telah mengirimkan mereka kepadaku. :)

Minggu, 06 Oktober 2013

Surat Terakhir.

0 komentar

Ah, sudah lama sekali aku tak mengucapkan Selamat Malam kepadamu. Atau sekedar menyapa pun rasanya tidak sama sekali.

Bagaimana dengan karirmu? Semoga lancar dan tidak ada gangguan, karena sekarang kau tanpa aku.

Yang aku tahu, kau sangat terobsesi dengan cita-citamu sendiri. Itu hal yang sangat wajar. Namun, semua hal itu berubah menjadi tidak wajar ketika kau mengatakan secara tidak langsung bahwa aku lah penghalang cita-citamu itu.

Mengapa? Bukankah  di belakang seorang pria sukses ada wanita yang selalu mendampinginya? Percayakah dengan kata-kata itu?

Oh ya, semenjak aku mengenalmu sejauh ini, aku sampai lupa bagaimana caranya untuk berpindah ke lain hati. Karena kau sangat meyakinkanku, bahwa kau lah satu-satunya.

Kau jahat sekali. Kau mengajarkanku tentang hal itu. Mungkin ketika kau sudah berpindah ke lain hati, aku baru akan mencobanya.

Namun, aku tidak mau kalah olehmu. Ketika kau sedang mengejar cita-citamu, aku pun akan mengejar cita-citaku. Ketika kau akan berpindah ke lain hati, begitu pun aku.

Aku hanya ingin berpesan kepadamu. Jagalah apa yang kau punya. Jangan menyia-nyiakan apa yang ada. Kau tidak akan tahu, kesederhanaan akan menjadi keistimewaan.

Mudah-mudahan ini surat terakhir dariku. Salahkan lah aku, jika aku mengirimkan surat seperti ini lagi untukmu.

Selamat Malam untukmu, yang telah pergi.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Surat Pertama.

0 komentar

Untuk Kamu, yang telah pergi.

Hai Kamu, bagaimana kabarnya? Sudah lama aku tidak mendengar kabarmu. Mungkin aku masih bisa memantau keadaanmu lewat social media.

Apakah kau tahu? Mamah sedari dulu menanyakan kabarmu. Mungkin beliau aneh melihat aku yang awalnya sering meminta izin keluar untuk main atau sekedar makan bersamamu, namun sekarang tidak.

Saat Mamah menanyakan hal itu. Yang ku katakan hanya sibuk. Mungkin memang kesibukan yang memisahkan kita seperti ini. Dan yang aku tahu, kamu merasa bosan dengan keadaan kita yang seperti itu.

Aku masih ingat jelas, bagaimana kata-kata yang terlontar dari mulutmu waktu itu. Menandakan bahwa ini perpisahan. Namun, kau berpesan kepadaku, jangan jadikan ini yang terakhir. Kau menawarkan bantuan jika aku membutuhkan dia. Namun faktanya sekarang?

Apakah kau sedang berusaha untuk tidak mengingatku kembali? Apapun yang telah kita lewati, simpan saja dalam kotak kenanganmu. Jika kau buang, memangnya aku sampah yang diawal dibutuhkan dan pada akhirnya tidak dipakai begitu saja?

Yang ku harapkan hanya satu. Bersikaplah sewajarnya teman. Pegang dan buktikanlah ucapanmu itu.

Oh ya, satu hal lagi. "Story Book" kita maukah kau baca kembali? Mungkin untuk sekarang, aku akan menyimpan buku itu di deretan koleksi bukuku lainnya. Dan entah kapan akan aku buka kembali.

Jumat, 04 Oktober 2013

Ibu yang lebih dari Ibu.

1 komentar
Mamah. Begitu aku memanggil ibuku.

Aku belum bisa merasakan arti sebenarnya dari seorang ibu. Tapi, yang aku tahu pasti, ibu ialah seorang wanita yang luar biasa hebatnya.

Ibu. Wanita tanpa pamrih. Mungkin, ada kalanya ketika beliau meminta sebuah "imbalan" atas kebaikannya kepada anak-anaknya, namun kini aku mengerti bahwa semua itu hanyalah keluh kesah beliau ketika merasa lelah dan ketika merasa tidak ada seorang pun yang mengertinya.

Ibu. Wanita dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya memang tak ada yang menandinginya. Ada kalanya, ketika seorang ibu bersikap keras dan amarahnya tak bisa tertahan lagi. Kini aku mengerti, bahwa dibalik amarahnya terselip kasih sayang yang memang tak ada tandingannya.

Ibu. Wanita yang pintar bermain drama. Ibu selalu membunyikan perasaan sedih dan lelahnya dengan senyumannya yang tulus. Ikut tertawa ketika melihat anaknya sedang bercanda, ikut bersedih ketika anaknya menangis.

Ibu. Wanita setia. Seberat apapun masalah yang datang kepada anaknya, ibu selalu mendampingi dan memberikan semangat kepada anaknya agar tidak putus asa dalam menghadapi masalahnya. Ketika semua orang pergi, memang ibu lah yang paling setia untuk memberikan pundak bahkan pelukannya untuk kita.

Ibu. Wanita pengertian. Batin seorang ibu terhadap anaknya memang sangat kuat. Tanpa kita memberitahu masalah apa yang sedang kita hadapi, seorang ibu selalu mengetahuinya.

Mungkin semua kata-kata ini tidak akan cukup untuk menggambarkan seorang ibu. Sayangi lah ibumu selagi mereka masih bernafas dan tetap tersenyum untukmu. Berikan yang terbaik untuk beliau. Jangan lupa untuk selalu meminta restunya dalam hal apapun. Karena restunya ibu merupakan restu segalanya, termasuk restu dari Allah.


Khusus untuk Mamah Tercinta yang selalu memberikan cintanya yang tulus :)


Kamis, 03 Oktober 2013

Matahari Palsu.

0 komentar


Dulu dan sekarang ini mungkin berbeda baginya.

Dulu ketika dia merasakan apa yang namanya bahagia, dia sampai tidak percaya akan adanya kesedihan. Dan ketika dia merasakan apa yang namanya kesedihan, dia tidak percaya akan adanya kebahagiaan.

Kau tahu apa artinya kebahagiaan?

Baginya kebahagiaan itu dulu sejak dia bertemu dengan seseorang yang bisa mengajaknya terbang mengudara bebas di langit biru. Tertawa lepas tanpa beban, tanpa memikirkan rintangan yang telah dia lewati karena dia terbang bersama orang itu. Orang itu sudah seperti mataharinya yang selalu menyinari ketika pagi datang, seolah mengucapkan kata-kata Selamat Pagi kepadanya. Orang itu pula seperti petir dan hujan yang selalu datang tiba-tiba, bisa saja membuatnya menangis karena ketakutan. Namun semua itu sirna, ketika orang itu menjelma menjadi matahari kembali. Karena orang itu percaya bahwa dia seperti rumah, layaknya orang itu akan kembali berteduh ketika panas ataupun hujan.

Dan kau tahu apa artinya kesedihan?

Baginya kesedihan itu ketika dia merasa bahwa mataharinya telah berubah perlahan-lahan. Pertanyaan yang selalu saja sama dan sering kali menghampirinya tanpa ragu. Sampai pada puncaknya dia tidak bisa memendam pertanyaan itu untuk lebih lama lagi.

Matahari, kau kemana saja? Aku sangat merindukanmu.

Pertanyaan itu terlontar begitu saja ketika kau-matahari-telah pulang. Tapi kau hanya diam saja. Kau hanya memberikan senyuman kepadanya. Dia pun ikut tersenyum, tapi hatinya tidak. Mungkin dia tidak cukup merasa lega karena kau hanya tersenyum ketika kau pulang.

Darimana saja, Matahari? Mengapa kau hanya tersenyum?

Belum pertanyaannya selesai dilontarkan semua, kau memutuskan untuk pergi darinya. Beberapa alasan kau lontarkan begitu saja tanpa dosa, tanpa memikirkan perasaannya. Mengapa kau begitu kejam padanya? Padahal dia percaya, bahwa kau lah satu-satunya yang bisa membuat dia bahagia. Tapi mungkin sekarang, kau lah satu-satunya yang bisa membuat dia meneteskan air mata berharganya.

Aku rindu kau, Matahari. Sungguh. Aku tidak bohong.